Bencana Alam dan Pengingat Kemanusiaan: Dari Krakatau hingga September Hitam


Majalah - Sejarah mencatat betapa dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Erupsi tersebut tak hanya menewaskan lebih dari 36 ribu jiwa, tetapi juga mengubah iklim global akibat abu vulkanik yang menyelimuti atmosfer. Pengingat akan kekuatan alam ini kembali hadir melalui erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 yang menyebarkan abu vulkanik di sebagian wilayah Jawa dan Sumatra.

Aktivitas vulkanik ini sejalan dengan maraknya perbincangan mengenai potensi gempa megathrust. Namun, isu megathrust hendaknya disikapi secara bijak sebagai ajakan untuk meningkatkan edukasi dan kesiapsiagaan mitigasi bencana, bukan sebagai prediksi kepastian waktu yang memicu kepanikan.

Di samping ancaman bencana alam, bulan September juga menyimpan catatan kelam perjalanan sejarah bangsa. Momen "September Hitam" menjadi pengingat akan berbagai peristiwa pelanggaran HAM di masa lalu yang memerlukan penuntasan dan penegakan keadilan. Baik ancaman alam maupun catatan sejarah, keduanya menjadi cermin penting bagi kita untuk terus mawas diri, siaga, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan. | Editorial - Edisi 79