Kantong Jebol Gegara Stres? Waspada 'Doom Spending', Perilaku Belanja Impulsif yang Mengintai Gen Z dan Milenial!


7urnalkita+ — Fenomena doom spending kini menjadi ancaman nyata yang mengintai keuangan generasi muda, khususnya Milenial dan Gen Z. Istilah ini merujuk pada perilaku berbelanja impulsif tanpa berpikir panjang demi mendapatkan ketenangan instan saat seseorang merasa pesimis terhadap kondisi ekonomi dan masa depannya. Alih-alih menabung untuk jangka panjang, mereka memilih menguras dompet demi kesenangan sesaat untuk meredam kecemasan.

Data studi global menunjukkan fakta yang mencengangkan, di mana sebanyak 43 persen generasi milenial dan 35 persen Gen Z mengaku rela menghabiskan uang hanya demi membuat perasaan mereka merasa lebih baik. Survei lain bahkan mencatat 96 persen warga Amerika Serikat merasa khawatir dengan kondisi ekonomi saat ini, dan lebih dari seperempatnya nekat mengeluarkan uang demi mengatasi stres. Fenomena pelarian finansial ini nyatanya tak hanya terjadi di Barat, tetapi juga menjangkiti anak muda di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Didorong Media Sosial dan Paparan Berita Buruk

Tren doom spending tumbuh subur akibat tingginya intensitas penggunaan media sosial yang paparan videonya kerap memicu kekhawatiran finansial harian. Paparan "berita buruk" secara terus-menerus saat berjelajah di dunia maya membuat anak muda terjebak dalam tekanan mental yang akut. Rasa takut akan ketidakpastian masa depan dan mentalitas kelangkaan uang kemudian mereka terusjemahkan ke dalam kebiasaan belanja yang tidak sehat.

Para ahli menegaskan bahwa terapi berbelanja (retail therapy) bukanlah solusi atas kekacauan emosional. Rasa senang saat membeli barang baru hanyalah suntikan hormon endorfin sementara yang justru berisiko menciptakan masalah keuangan baru yang jauh lebih berat di kemudian hari, seperti jeratan utang dan kebangkrutan.

Langkah Efektif Membentengi Diri dari 'Doom Spending'

Guna mencegah pengeluaran yang sia-sia, para ahli menyarankan tujuh strategi utama yang bisa langsung diterapkan. Langkah awal dimulai dari menggunakan kerangka anggaran yang ketat, seperti metode 50/30/20—yakni mengalokasikan 50 persen pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk pengeluaran opsional, dan 20 persen untuk tabungan atau investasi.

Strategi selanjutnya adalah mengenali dan mengolah emosi dasar pemicu belanja dengan cara bercerita kepada teman tepercaya, berdiskusi dengan terapis, meditasi, atau menulis jurnal. Selain itu, penting untuk mengotomatiskan pembayaran tagihan dan tabungan, menjaga keseimbangan pengeluaran, serta mengalihkan aktivitas berbelanja ke kegiatan positif lain seperti berjalan-jalan atau menikmati teh bersama teman.

Masyarakat juga diimbau untuk melatih jeda dengan menunda pembelian impulsif selama sehari atau seminggu, menghapus aplikasi belanja yang terlalu mempermudah transaksi, serta membiasakan diri menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap hari agar tidak terus-menerus merasa kekurangan.

Penasaran dengan trik mengelola emosi dan panduan lengkap lepas dari jebalan doom spending agar finansial tetap stabil di masa sulit?

Simak ulasan selengkapnya dan pembahasan mendalamnya hanya di Majalah JKP Edisi 56!