Bukan Cuma 6! Terkuak Rahasia Agama 'Asli' Leluhur Indonesia yang Tak Banyak Orang Tahu


7URNALKITA+ — Jauh sebelum agama-agama pendatang masuk dan diakui secara resmi oleh negara, masyarakat Nusantara sebenarnya telah memiliki sistem kepercayaan lokal yang mengakar kuat selama ribuan tahun. Keyakinan warisan suku bangsa Austronesia hingga Papua ini menyatu begitu erat dengan tradisi harian warga lokal hingga mustahil untuk dipisahkan, meski kini posisinya secara administratif dikategorikan sebagai Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Putusan Mahkamah Konstitusi pada akhir 2017 memang telah menjamin hak sipil para penghayat kepercayaan agar setara dengan penganut enam agama resmi di dokumen kependudukan. Namun, pengetahuan publik mengenai isi ajaran serta ritual filosofis agama asli leluhur ini sering kali masih minim dan dibayangi berbagai prasangka salah kaprah.

Dari Sunda Wiwitan Hingga Filosofi Monoteisme Kuno Jawa

Di tanah Pasundan, ajaran Sunda Wiwitan telah dianut masyarakat lokal jauh sebelum pengaruh Hindu dan Buddha masuk. Berpusat di kawasan Kanekes Banten hingga Cigugur Kuningan, penganutnya memuja Sang Hyang Kersa sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati leluhur. Sementara itu di Jawa, kepercayaan Kejawen mengajarkan lelaku spiritual agar manusia bisa menjadi rahmat bagi diri sendiri, keluarga, sesama, serta alam semesta.

Tak kalah menarik, tanah Jawa juga menyimpan Kapitayan, sebuah kepercayaan kuno yang secara mengejutkan telah mengenal konsep monoteisme murni jauh sebelum era kerajaan klasik. Penganut Kapitayan menyembah Sang Hyang Tunggal sebagai sumber segala ciptaan, menghormati gunung keramat seperti Semeru, serta memandang alam sebagai entitas suci yang wajib dijaga keharmonisannya.

Pesta Adat Sumba, Ugamo Malim Batak, dan Keunikan Wetu Telu

Bergeser ke Timur Indonesia, Pulau Sumba memelihara ajaran Marapu yang meyakini keberadaan surga bernama Prai Marapu bagi jiwa-jiwa yang telah wafat. Kompleksitas ajaran Marapu ditandai dengan pesta adat besar-besaran untuk merayakan daur hidup seperti kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Di Sumatra, Suku Batak memiliki Ugamo Malim yang disembah oleh puluhan generasi dengan memuja Debata Mula Jadi Na Bolon sebagai Pencipta alam semesta.

Di Kalimantan, penganut Kaharingan menyembah Ranying Hatalla dan beribadah di Balai Basarah, sebelum akhirnya secara administratif diintegrasikan ke dalam naungan agama Hindu oleh pemerintah pada tahun 1980.

Sementara itu di Lombok, terdapat konsep Wetu Telu pada masyarakat Bayan yang kerap kali disalahpahami oleh publik sejak zaman penjajahan Belanda. Wetu Telu sebenarnya merupakan pandangan filosofis mengenai tiga alam kehidupan manusia—rahim, dunia, dan akhirat—yang dijalankan selaras dengan syariat Islam dan tradisi adat lokal.

Penasaran dengan kilas balik sejarah, konflik pengakuan administratif, serta detail ritual unik dari ke-7 agama asli Nusantara ini?

Simak ulasan selengkapnya dan pembahasan mendalamnya hanya di Majalah JKP Edisi 55!