Cuma Ikut-Ikutan Tren? Ini Rahasia 'Soft Living' Biar Nggak Malah Bikin Stres dan Pengangguran!


7urnalkita+ — Istilah soft living belakangan ini makin berseliweran di media sosial. Gaya hidup yang mengedepankan ketenangan, hidup lebih pelan, dan minim tekanan ini digadang-gadang jadi obat mujarab penurun stres di tengah kepungan tuntutan kerja. Namun, benarkah konsep ini cocok untuk semua orang, atau justru bisa jadi bumerang jika salah kaprah?

Psikolog klinis Mira Amir menegaskan bahwa soft living sama sekali bukan lampu hijau untuk bermalas-malasan atau kabur dari tanggung jawab. Konsep ini sebenarnya lahir sebagai benteng pertahanan dari budaya workaholic yang berisiko merusak kesehatan mental.

"Jangan sampai disalahartikan bahwa boleh bermalas-malasan. Ini muncul sebagai respons dari kondisi yang terlalu ekstrem," ujar Mira saat dihubungi JKP.

Beda Fase Hidup, Beda Nasib

Penerapan soft living ternyata tidak bisa disamaratakan. Bagi pekerja kreatif atau freelancer dengan jam kerja fleksibel, gaya hidup ini mungkin sangat ideal. Namun, bagi pekerja korporat bersistem target ketat atau para pencari kerja (fresh graduate), memaksakan soft living secara mentah-mentah justru berpotensi memicu konflik baru hingga menghambat karier.

Hal ini dirasakan langsung oleh Rijal (24), seorang fresh graduate asal Jakarta. Menurutnya, konsep santai belum sepenuhnya relevan dengan fasenya saat ini.

"Sebagai fresh graduate, aku masih di fase butuh banget kerja. Kalau terlalu soft living, takutnya malah nggak berkembang," ungkap Rijal.

Sebaliknya, Nadya (25), seorang karyawan swasta, merasa soft living membantunya lebih sadar untuk tidak selalu memaksakan diri agar terus-menerus produktif.

Kunci Utama: Komunikasi Asertif dan Berani Kurangi Hal Kecil

Tantangan terbesar pekerja saat ini adalah ketakutan menetapkan batas diri, terutama saat berhadapan dengan atasan. Budaya senioritas kerap membuat seseorang tidak enak menolak tugas tambahan. Solusinya bukan menolak semua pekerjaan, melainkan membangun komunikasi asertif—yakni menyampaikan batas kemampuan secara jujur tanpa memicu konflik.

Selain itu, menciptakan hidup yang lebih ringan sebenarnya bukan dengan menambah rutinitas baru yang ribet, melainkan dengan mengurangi "kebocoran energi" kecil sehari-hari. Beberapa langkah sederhana yang bisa langsung dicoba antara lain:

  • Membatasi distraksi: Hindari kebiasaan berpindah-pindah tugas dan terlalu sering membuka pesan singkat di sela kerja.
  • Membuat batasan tegas: Tentukan jam sakral di mana kamu berhenti membalas chat atau email pekerjaan
  • Manfaatkan micro-break: Ambil jeda singkat kurang dari 10 menit di tengah aktivitas harian untuk menyegarkan pikiran
  • Belajar fleksibel: Pahami bahwa hidup tidak harus selalu tenang; yang terpenting adalah kemampuan beradaptasi saat tekanan datang

Ingat, Soft Living Beda dengan Slow Living!

Banyak orang menganggap keduanya sama, padahal prinsip dasarnya berbeda. Soft living lebih berfokus pada kenyamanan, menjaga energi harian, dan menghindari stres instan. Sementara itu, slow living berakar dari slow movement tahun 1980-an yang mengubah struktur hidup secara menyeluruh—mulai dari cara mengambil keputusan hingga membangun hubungan yang lebih bermakna.

Lantas, bagaimana trik lengkap menyeimbangkan soft living dengan tuntutan karier korporat agar mental tetap aman dan dompet tetap terisi?

Simak ulasan selengkapnya dan panduan mendalamnya hanya di Majalah JKP Edisi 76!