7urnalkita+ — Istilah soft living belakangan ini makin berseliweran di media sosial
Psikolog klinis Mira Amir menegaskan bahwa soft living sama sekali bukan lampu hijau untuk bermalas-malasan atau kabur dari tanggung jawab
"Jangan sampai disalahartikan bahwa boleh bermalas-malasan. Ini muncul sebagai respons dari kondisi yang terlalu ekstrem," ujar Mira saat dihubungi JKP
Beda Fase Hidup, Beda Nasib
Penerapan soft living ternyata tidak bisa disamaratakan
Hal ini dirasakan langsung oleh Rijal (24), seorang fresh graduate asal Jakarta
"Sebagai fresh graduate, aku masih di fase butuh banget kerja. Kalau terlalu soft living, takutnya malah nggak berkembang," ungkap Rijal
Sebaliknya, Nadya (25), seorang karyawan swasta, merasa soft living membantunya lebih sadar untuk tidak selalu memaksakan diri agar terus-menerus produktif
Kunci Utama: Komunikasi Asertif dan Berani Kurangi Hal Kecil
Tantangan terbesar pekerja saat ini adalah ketakutan menetapkan batas diri, terutama saat berhadapan dengan atasan
Selain itu, menciptakan hidup yang lebih ringan sebenarnya bukan dengan menambah rutinitas baru yang ribet, melainkan dengan mengurangi "kebocoran energi" kecil sehari-hari
- Membatasi distraksi: Hindari kebiasaan berpindah-pindah tugas dan terlalu sering membuka pesan singkat di sela kerja
. - Membuat batasan tegas: Tentukan jam sakral di mana kamu berhenti membalas chat atau email pekerjaan
- Manfaatkan micro-break: Ambil jeda singkat kurang dari 10 menit di tengah aktivitas harian untuk menyegarkan pikiran
- Belajar fleksibel: Pahami bahwa hidup tidak harus selalu tenang; yang terpenting adalah kemampuan beradaptasi saat tekanan datang
Ingat, Soft Living Beda dengan Slow Living!
Banyak orang menganggap keduanya sama, padahal prinsip dasarnya berbeda
Lantas, bagaimana trik lengkap menyeimbangkan soft living dengan tuntutan karier korporat agar mental tetap aman dan dompet tetap terisi?
Simak ulasan selengkapnya dan panduan mendalamnya hanya di Majalah JKP Edisi 76!
