Mengasah Logika Bisnis dan Pengambilan Keputusan Lewat Ilmu Mantiq


FILSAFATKITA — Penguasaan logika formal kini menjadi fondasi krusial di tengah kompleksitas pengelolaan organisasi dan pengambilan keputusan bisnis. Koperasi Yamughni menyoroti pentingnya penerapan silogisme, atau yang dikenal sebagai Qiyas dalam tradisi Ilmu Mantiq, sebagai instrumen utama untuk membangun cara berpikir kritis dan analitis.

Metode argumen logis yang awalnya digagas filsuf Yunani Aristoteles dan dikembangkan lebih lanjut oleh filsuf muslim Al-Farabi ini menyediakan kerangka berpikir sistematis. Melalui pendekatan ini, pengambilan kesimpulan yang sah dapat ditarik secara cermat dari dua premis utama.

Penerapan silogisme bertumpu pada tiga tatanan struktur baku. Pertama adalah premis mayor yang berisi pernyataan atau prinsip umum. Kedua adalah premis minor yang menghubungkan subjek khusus dengan kategori pada premis mayor. Ketiga adalah kesimpulan yang mempertautkan subjek premis minor dengan predikat premis mayor secara logis. Sebagai gambaran, jika premis mayor menyatakan bahwa semua anggota Koperasi Yamughni adalah anggota Mahardhika, dan premis minor menyebutkan Suparman adalah anggota Koperasi Yamughni, maka kesimpulannya Suparman adalah anggota Mahardhika.

Dalam praktiknya, terdapat tiga jenis silogisme yang umum digunakan. Silogisme kategorial menggunakan pernyataan kategoris baku, seperti kesimpulan bahwa Pak Mamat membayar Simwa karena ia adalah anggota koperasi dan seluruh anggota wajib membayarnya. Silogisme hipotetis berlandaskan hubungan sebab-akibat, seperti anggapan bahwa koperasi pasti untung jika anggota rajin berbelanja. Sementara itu, silogisme disjungtif menyajikan pilihan terpisah, seperti menentukan bahwa berjualan itu menguntungkan karena terbukti tidak rugi.

Meski menjadi alat penalaran yang kuat, para pengambil keputusan diimbau untuk mewaspadai dua bentuk kesalahan logika (fallacy). Kesalahan formal terjadi akibat kekeliruan dalam struktur hubungan antar-premis, sedangkan kesalahan material timbul dari ketidakakuratan isi atau fakta premis yang digunakan.

Penerapan silogisme tidak berhenti pada teori akademis semata, melainkan berdampak langsung pada operasional harian dan strategi bisnis. Pengelola organisasi yang memahami kerangka logika ini akan lebih mudah mengidentifikasi kerancuan argumen, meningkatkan kualitas analisis, serta menghasilkan keputusan yang rasional dan tepat target.

Artikel lengkapnya pernah tayang di Majalah 7urnalkita+ Edisi 67

(Sumber Rujukan: kwikkiangie.ac.id; Buku "Ilmu Mantiq" karya Rizeem Aizid, AHI, 2023; Majalah Filsafat Driyarkara Th. XX No. 1, 1993)